Orang tua perlu mengawasi dan membatasi anak untuk menggunakan gadget secara berlebihan, jika tidak ada perhatian dari orang tua. Maka imbasnya anak akan terkikis nilai sosialnya dan tidak mengenal lingkungan sekitar.
Rabu, 12 Februari 2014
Rabu, 05 Februari 2014
Ulasan Naskah Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi TIK
Ulasan
Naskah Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi TIK
Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan
kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja,
kapan saja, dan dari siapa saja. Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi
informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan
berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan
perubahan yang cukup nampak. Sebagai landasan hukumnya dalam mengembangkan kurikulum TIK masa depan diantaranya dilihat dari Tugas
Pokok dan Fungsi Pusat Kurikulum dalam mengembangkan kurikulum khususnya mata
pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.Peraturan Pemerintah No. 19 tahun
2005, Pasal 1 Ayat 1: Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal
tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan Pasal 28 tentang Standar Pendidik dan Kependidikan. Dengan
demikian peranan TIK bidang pendidikan antara lain adalah sebagai keterampilan
skill, sebagai infrastruktur pembelajaran, sebagai bahan sumber belajar sampai
sebagai pendukung manajemen pembelajaran.
Untuk membentuk kurikulum masa depan,
Teknologi Informasi dan Komunikasi harus memiliki karakteristik materinya harus
berupa tema-tema aktual dan tema esensial, yang merupakan perpaduan dari
cabang-cabang ilmu komputer, matematika, teknik elektronika, telekomunikasi,
sibernetika dan informatika itu sendiri. Materi Teknologi Informasi dan
Komunikasi harus dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan
multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin
ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.
TIK sebagai mata pelajaran baru ini membawa kosekuensi logis pada keharusan
guru menguasainya dan terampil dalam mengajarnya sebelum mengajarkan materi TIK
kepada para siswa.
Untuk menguasai dan terampil cara
mengajarkan TIK kepada siswa, guru perlu mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan yang cukup memadai melalui cara yang sistematis dan komprehensif. Dari
seminar yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA UPI
dengan tema “Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan”
, ditemukan bahwa para pengajar TIK memerlukan pendidikan khusus atau tambahan
pengalaman untuk memenuhi standar pengajaran TIK yang baik.
Strategi implementasi kurikulum membentuk
struktur yang sistematis dalam penyusunan kurikulum terkait dengan visi/target
yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kemampuan yaitu; pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skill), analitis, inovatif, dan etika. Sehingga
dalam penyusunan kurikulum mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi
perlu dimasukkan dan mempertimbangkan unsur pedagogis diantaranya
mempertimbangkan usia dan tahapan sekolah mulai dari Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah,
Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsyanawiyah dan Sekolah Menengah Atas /
Madrasah Aliyah.
TIK DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
PENDAHULUAN
Pembelajaran abad 21
merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi penerus menjadi generasi
yang memiliki kemampuan kecakapan abad 21. Setidaknya ada empat yang harus
dimiliki oleh generasi abad 21,yaitu: ways of thingking, ways of working,
tools for working and
dan skills for living in
the word. Bagaimana seorang guru harus mendesain pembelajaran yang
akan menghantarkan peserta didik memenuhi kebutuhan abad 21? Pembelajaran abad ke-21 yang berpusat
pada siswa berbeda dengan pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru,
dalam arti bahwa keduanya memiliki pendekatan yang berbeda terhadap isi,
pembelajaran, lingkungan ruang kelas, penilaian, dan teknologi. Hal ini yang
menjadikan hal yang harus dimiliki oleh siswa sebagai peserta didik yang
tergabung dalam empa cara yaitu :
Way of thinking,
cara berfikir yaitu beberapa kemampuan berfikir yang harus dikuasai peserta
didik untuk menghadapi dunia abad 21. Kemampuan berfikir tersebut diantaranya:
kreatif, berfikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan
pembelajar.
Ways of working. kemampuan
bagaimana mereka harus bekerja. dengan dunia yang global dan dunia digital.
beberapa kemampuan yang harus dikuasai peserta didik adalah communication
and collaboration.
Generasi abad 21 harus mampu berkomunikasi dengan baik, dengan
menggunakan berbagai metode dan strategi komunikasi. Juga harus mampu
berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu maupun komunitas dan jaringan.
Jaringan komunikasi dan kerjasama ini memamfaatkan berbagai cara, metode dan
strategi berbasis ICT. Bagaimana seseorang harus mampu bekerja secara bersama
dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Tools for working. Seseorang harus
memiliki dan menguasai alat untuk bekerja. Penguasaan terhadap Information and
communications technology (ICT) and information literacy merupakan sebuah
keharusan. Tanpa ICT dan sumber informasi yang berbasis segala sumber akan
sulit seseorang mengembangkan pekerjaannya.
Skills for living in the world.
kemampuan untuk menjalani kehidupan di abad 21, yaitu: Citizenship, life and
career, and personal and social responsibility. Bagaimana peserta didik harus
hidup sebagai warga negara, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab
pribadi dan sosial.Kurikulum yang sudah dikembangkan saat ini oleh
sekolah-sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat
pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran
yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai
dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir
dan belajar (thinking and learning skils). Kecakapan-kecakapan tersebut
diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving),
berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan
berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh siswa apabila guru mampu
mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi aktivitas-aktivitas
yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan
yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam
setiap rencana pembelajaran yang dikembangkan. Selain pendekatan pembelajaran, siswa pun harus diberi kesempatan untuk
mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi.
Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah suatu kemampuan untuk
menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran untuk mencapai kecakapan
berpikir dan belajar siswa. Kegiatan-kegiatan yang harus disiapkan oleh guru
adalah kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan
teknologi komputer untuk melatih keterampilan berpikir kritis dalam memecahkan
masalah melalui kolaborasi dan komunikasi dengan teman sejawat, guru-guru, ahli
atau orang lain yang memiliki minat yang sama. Dengan kehadiran
teknologi dan komunikasi (ICT) memberikan tantangan dalam dunia pendidikan,
peserta didik lebih tertarik mempelajari ICT dibandingkan materi pembelajaran
lainya, peserta didik bahkan rela berjam-jam di depan komputer untuk mengakses
internet dan mencari informasi yang tidak bisa didapatkan di sekolah. Fenomena
seperti ini menjadi tugas dan pekerjaan rumah yang besar bagi dunia pendidikan
untuk bisa mengadopsi dan melakukan inovasi pembelajaran. Jangan sampai dunia
pendidikan formal hanya dijadikan tempat untuk memperoleh ijazah semata tanpa
memberikan kontribusi dalam membina generasi penerus perjuangan bangsa yang
akan menjadi pemimpin masa depan.
PEMBAHASAN
A. PEMANFAATAN
TIK DI SEKOLAH
Menghadapi
abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for
the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan
(seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran,
yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan), Learning
to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be
(belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar
untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di
era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran
perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah. Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam
dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah
pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat
penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam
pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan
menurut UNESCO, yaitu: Level 1:Emerging - baru menyadari pentingnya TIK untuk
pendidikan; Level 2: Applying - baru mempelajari TIK (learning tom use ICT);
Level 3: Integrating - belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to
learn); Level 4: Transforming - dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas
dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.
Salah
satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet yang
berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya
telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam
berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era
globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan
dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau
kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk
memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan
pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat
beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara
serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada
masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi
berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan
dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan.
Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi
tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan
tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda
dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap
muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
TIK dalam dunia
pendidikan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Berikut adalah
beberapa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran:
Memanfaatkan
fasilitas multimedia yang sudah tersedia untuk mempermudah kegiatan yang
dilakukan selama proses pembelajaran. Misalnya, untuk presentasi. Jika dahulu
presentasi hanya menggunakan media OHP yang monoton, sekarang presentasi sudah
dapat ditampilkan dengan LCD projector dan dibuat lebih kreatif dengan
menampilkan berbagai konten multimedia, seperti gambar, video, suara, dan
sebagainya.
Memanfaatkan
internet untuk proses pembelajaran jarak jauh (kelas virtual). Kelas virtual
ini sudah menjadi tren di era globalisasi sekarang. Karena kelas virtual
mmiliki beberapa keuntungan, seperti: peserta didik dapat mengekspresikan diri,
bersosialisasi, saling berbagi pengetahuan, meningkatkan kreativitas, dan
menumbuhkan cara belajar yang mandiri.
Memungkinkan
peserta didik untuk berdemonstrasi dengan perangkat multimedia yang ada.
Misalnya, menampilkan suatu kegiatan eksperimen dengan tujuan untuk
memperlihatkan bagaimana cara yang dilakukan dalam eksepimen tersebut.
B.
Kendala Pemanfaatan TIK dalam Dunia Pendidikan
Pada saat ini, Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) memegang peranan yang penting dalam berbagai bidang, termasuk
dalam bidang pendidikan. Salah satu penerapan TIK dalam bidang pendidikan
antara lain pemanfaatan sarana multimedia dan media Internet dalam proses
pembelajaran. Pemanfaatan sarana multimedia dalam proses pembelajaran
diwujudkan melalui modul-modul pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik
minat pembelajar, misalnya penggunaan flash, adanya penjelasan melalui media
suara/ audio dan penambahan fitur-fitur yang dapat meningkatkan partisipasi
aktif dari pembelajar. Sedangkan dengan pemanfaatan media Internet dalam proses
pembelajaran diharapkan akan mempermudah pembelajar dalam mendapatkan informasi
yang dibutuhkan, sehingga diharapkan pembelajar akan aktif mencari informasi
dan pengetahuan yang dibutuhkan. Namun pada kenyataannya, penerapan TIK
dalam bidang pendidikan di Indonesia masih dalam tahap awal dan masih belum
termanfaatkan secara maksimal.
Kendala-kendala penerapan TIK di bidang
pendidikan antara lain disebabkan oleh :
·
Belum meratanya infrastuktur yang
mendukung penerapan TIK di bidang pendidikan merupakan permasalahan awal yang
harus segera diselesaikan oleh pihak yang berwenang, karena tanpa adanya
infrastruktur yang mendukung maka penerapan TIK di bidang pendidikan hanya akan
menjadi impian semata. Infrastruktur merupakan komponen yang sangat penting
yang berfungsi sebagai modal awal dan utama dalam penerapan TIK di bidang
pendidikan. Pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa hanya daerah tertentu
saja yang mendapatkan akses TIK. Hal ini dikarenakan masih banyak daerah yang
bahkan untuk memilki akses telepon saja tidak ada, apalagi untuk akses
terhadap Internet. Padahal sesungguhnya banyak sekali potensi sumber daya
manusia unggul yang dimiliki oleh daerah tersebut. Jika hal ini terus
berlangsung seperti ini maka dikhawatirkan bahwa potensi sumber daya manusia
yang dimiliki daerah tersebut akan terbuang dengan percuma dan tidak dapat
dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya.
·
Kendala lainnya
yang perlu diselesaikan adalah ketidaksiapaan sumber daya manusia untuk
memanfaatkan TIK dalam proses pembelajaran. Ketidaksiapan ini dikarenakan pola
kebiasaan pembelajaran yang masih belum menganggap penting peranan TIK dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka cenderung sudah merasa puas akan
materi yang telah diberikan oleh pengajar secara langsung, sehingga menyebabkan
mereka tidak mau/ malas untuk mencari informasi tambahan yang ada di Internet
walaupun sarana dan infrastruktur sudah mendukung dalam penerapan TIK.
Terkadang kendala ini jauh lebih susah untuk dipecahkan daripada tidak adanya
infrastruktur yang mendukung TIK, hal ini karena biasanya lebih susah untuk
mengubah pola tingkah laku/ kebiasaan dari seseorang. Oleh karena itu, perlu
adanya kesadaran dari setiap individu pembelajar untuk memanfaatkan dan
menerapkan TIK dalam metode pembelajarannya.
PENUTUP
Teknologi Informasi dan Komunikasi yang berkembang saat ini
dimana untuk memiliki kemampuan mengakses atau memanfaatkannya merupakan salah
satu bagian dari ketrampilan kecakapan abad 21 yang harus dimiliki oleh semua
orang terutama bagi siswa sebagai peserta didik di sekolah. Dengan memiliki
keterampilan kecakapan abad 21 khsusnya penggunakan teknologi informasi dan
komunikasi dapat membantu dalam mengembangkan pembelajaran siswa dalam upaya
mencapai kecakapan abad 21 seperti kemampuan berkomunikasi, kolaborasi,
kreativitas, inovasi, kemandirian dan sebagainya. Sarana-sarana atau
perangkat-perangkat teknologi sudah tersedia banyak di dunia ini yang dapat
dimanfaatkan dalam prose pembelajaran siswa di kelas seperti teknologi jaringan
internet, aplikasi jejaring social, aplikasi presentasi dan sebagainya.
Dari penjelasan
yang telah dipaparkan, dapat ditarik
kesimpulan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membawa pengaruh yang
begitu besar bagi setiap aspek kehidupan, terutama pendidikan. Kekurangan dan
hambatan yang ada dalam proses pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan
perkembangan TIK.
Seperti yang disebutkan dalam bagian pertama pembahasan, yaitu
arti TIK bagi dunia pendidikan berarti tersedianya saluran atau sarana
yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun, kenyataannya di
Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan
penerapan TIK. Hal ini disebabkan adanya berbagai kendala yang ada dalam
usaha pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Hal ini membuktikan
ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti
Amerika dan Cina. Di negara tersebut, penggunaan TIK dalam proses pembelajaran
sudah merupakan hal yang lazim. Oleh sebab itu, kita bersama-sama
dengan pemerintah dan pihak lainnya harus saling bahu-membahu dalam
penyelenggaraan pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Karena teknologi
informasi dan komunikasi menjadi kunci untuk menuju sekolah masa depan yang
lebih baik.
Sumber :
Selasa, 04 Februari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)









